Aceh Raih Juara III Dunia

YALOVA, TURKI - Tim kesenian Aceh yang diwakili Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi-Aceh) dalam International Folkdance Festival (Festival Tari Rakyat international), berhasil meraih posisi juara III. Juara I direbut Rusia, juara II Cyprus dan busana terbaik dari negara Macedonia. Inilah sebuah prestasi mengagumkan yang ditorehkan dengan tinta emas oleh anak-anak Aceh dalam perhelatan seni tingkat dunia.

Wartawan Serambi Indonesia, Fikar W Eda, yang meliput kegiatan tersebut di Yalova, Turki, melaporkan bahwa dalam sesi perlombaan yang berlangsung Rabu (28/7) malam waktu Turki atau Kamis (29/7) dinihari WIB, delegasi Aceh mempersembahkan tarian berjudul Geunta ciptaan Teuku Admiral, koreografer muda yang sekarang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Sabang. Saat panitia mengumumkan kemenangan Aceh, langsung disambut sorak kegirangan oleh tim Aceh yang sedang berparade di atas panggung.
Pimpinan Lasqi Aceh, Ny Dewi Meutia Muhammad Nazar, yang tak lain adalah istri Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar, yang menyaksikan acara itu dari sayap kanan panggung langsung meluapkan kagembiraan dengan menyalami dan memberi selamat kepada para penari dan pemusik. Hadir pula di tempat itu rombongan Anggota DPRA dan sejumlah pejabat Pemerintahan Aceh.

Plakat penghargaan diterima Cut Putri Rahmi yang mengenakan pakaian adat Aceh warna kuning telur. “Sebuah pengalaman penting untuk saya saat menerima plakat penghargaan ini. Tidak diduga sama sekali. Saya benar-benar gugup,” kata Cut Putri yang tampak gembira.

International Folkdance Festival itu berlangsung di kota Yalova, Turki, antara lain diikuti oleh Indonesia, Rusia, Cyprus, Macedonia, Korea Selatan, Bulgaria, Bosnia Herzegovina, Montenegro, Macedonia, Italia, Sierra Leona dan Yakutista. Festival tersebut berlangsung tiap tahun dan sudah berjalan selama 24 kali.  Yalova adalah kota wisata berpenduduk 90 ribu jiwa dan salah satu provinsi di Turki. Kota ini terletak di tepi Laut Marmara, laut yang menghubungkan Benua Asia dan Eropa. Yalova dapat dicapai dua jam perjalanan dari Istanbul menggunakan mobil dan feri penyeberangan.


Heroisme Aceh
Tarian Geunta yang dipersembahkan dalam festival tersebut memperlihatkan sisi heroisme Aceh melalui gerak tubuh yang dinamis dan lincah. Para penari terdiri dari mahasiswa IAIN Ar-Raniry, Ismuhadi, Salamuddin, Taufik Hidayat, Cut Ernaliana, Nurul Hidayah, Cut Putri Rahmi, Leni Sumarlina, Ihza Fajri, Khairunnisa, Maida Julita. Penari perempuan mengenakan pakaian Aceh modifikasi warna krim dan hijau lumut, dilengkapi hiasan sanggul Aceh, dan tengkulok Seudati bagi penari pria.

Tarian Geunta diawali gebrakan musik perkusi dalam tempo cepat dimainkan Aris Munandar, Iskandar, Zul Ikram, Ismul Azam dan Imam Juaini langsung mengalirkan suasana meriah dan disambut tepukan penonton.

Para penari  masuk dari sisi kanan dan kiri panggung langsung menuju titik pusat pentas, membentuk konfigurasi tertentu dengan gerakan tubuh yang benar-benar energik. Sepanjang pertunjukan tubuh para penari tidak pernah berhenti bergerak. Kelincahan kaki, dan kelenturan tubuh diperlihatkan dengan sempurna, bagai geunta yang tak pernah berhenti berdenting. Syair yang mengiringi tarian Geunta berisi puja puji kepada Sang Pencipta sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah. Termasuk berisi seruan menjalankan syariat agama. “Tarian ini sangat religius,” kata Taufik Hidayat, salah seorang penari.

Karya terbaik
Ketua Lasqi Aceh Dewi Meutia menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh anggota delegasi Aceh yang telah mempersembahkan karya terbaik dalam festival tersebut. “Sebuah kerja keras yang memberi hasil terbaik. Saya benar-benar terharu atas prestasi ini. Kita bersyukur kepada Allah,” kata Dewi Meutia dalam nada haru.

Dewi Meutia didampingi Drs Aidi Kamal, Sekretaris Lasqi Aceh yang juga Kassubag Pembinaan Kebudayaan dan Adat Istiadat Biro keistimewaan Aceh. Lasqi Aceh menjanjikan bonus kepada seluruh anggota kontingen. Keikutsertaan Aceh dalam festilval tersebut direkomendasikan oleh Conseil International des Organisation de Festival de Folklore et d’Art Traditionnels (CIOFF), organisasi yang berada di bawah Unesco, badan PBB yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Presiden CIOFF Indonesia, Said Rachmat, memuji penampilan tim kesenian Aceh sebagai sesuatu yang mengagumkan. “Penampilan mereka bagus dan penonton Turki sangat apresiatif,” komentar Said Rachmat yang mendampingi tim Aceh sejak berangkat dari Jakarta.  Anggota dewan juri mewakili Aceh, El Bahar mendengar sendiri pujian dari anggota juri lainnya pada saat penampilan Aceh. “Mereka terkagum-kagum dengan penampilan Aceh,” sebut Bahar yang juga salah seorang pimpinan Lasqi Aceh. Untuk penilaian, panitia penyelenggara meminta masing-masing kontingen mengirimkan satu orang juri. Mereka diharuskan menilai seluruh pertunjukan, kecuali penampilan dari negara yang diwakili.

Dengan kemenangan Aceh di forum internasional, Imam Juaini mengatakan harus diikuti dengan perubahan mendasar terhadap seluruh kebijakan dalam pembinaan kesenian di Aceh. “Kita berterima kasih bahwa festival ini disaksikan sendiri oleh DPRA dan pejabat Aceh yang berkompeten dalam bidang kesenian. Mudah-mudahan mereka tergugah untuk memberi perhatian terbaik bagi pembangunan seni Aceh,” sebut Imam yang selama festival ditempatkan di rumah bedeng tepi pantai dengan kapasitas delapan orang satu rumah.

Saman Senja
Untuk kepentingan festival tersebut, kontingan Aceh mempersiapkan tiga tari kolaborasi, dua tari tradisional dan dua tari kreasi. Khusus Tari Geunta disiapkan untuk sesi perlombaan. Sementara tarian lainnya dipertunjukan dalam acara eksebisi di berbagai tempat di Yalova.

Seluruh pertunjukan tarian Aceh mengundang decak kagum penonton Turki. Salah satu yang sempat menghipnotis adalah Tari Saman Gayo. Tarian ini antara lain dipentaskan di Agdin Kent Sehil Sitesi atau Giftlik koy, sebuah  pemukiman apartemen yang dihuni masyarakat kelas menengah Yalova, pada Selasa (27/7) lalu. Dipentaskan pada saat semburat  merah senja menghias langit Yalova. Arena pertunjukan yang tidak begitu besar itu, persis berada di tepi Laut Marmara.

Seusai pertunjukan sejumlah penonton mengerubungi para penari. Sebahagian minta berfoto bersama dan sebahagian lagi minta diajarkan gerakan Saman secara singkat. “Gerakan yang sangat mempesona. Bagaimana bisa kalian tidak saling tubrukan,” komentar salah seorang penonton, bernama Busra Dorcem.

Pertunjukan seni Aceh juga dilengkapi nyanyian “Gul Animatagul,” dilantunkan Ely Silviani,  “Wahdana dan Ayuch” oleh Farnida Ulfa serta “Bungong” oleh  Ermanida AR. “Gul Animatagul (Katakan Padaku Katakan), “Wahdana (Nyanyian Riang gembira)” dan “Ayuch (Marilah Bersamaku)” adalah nyanyian berbahasa Arab yang diaransir oleh Sunardi (Sone), dengan pemusik Ismul Azam, Wira Harahap, Said Fuad, Faisal Umar dan Febri Abdul Ghafur yang tergabung dalam grup Lasqi (Lembaga Seni Qasidah Indonesia) Aceh. Kontingen Aceh dijadwalkan kembali ke indonesia melalui bandara International Istanbul pada Minggu (1/8) transit di Bandara Changi Singapura. Selama di Istanbul kontingen Aceh diajak berwisata pada sejumlah tempat bersejarah di kota itu.

0 komentar:

Posting Komentar